PERSEPSI
Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Mangkunegara (dalam Arindita, 2002) berpendapat bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Adapun Robbins (2003) mendeskripsikan persepsi dalam kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka.
Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.
Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga (Taniputera, 2005).
Dari definisi persepsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti.
Proses Persepsi dan Sifat Persepsi
Alport (dalam Mar’at, 1991) proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada.
Walgito (dalam Hamka, 2002) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:
1) Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.
2) Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf sensoris.
3) Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik, merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor.
4) Tahap ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan perilaku.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses persepsi melalui tiga tahap, yaitu:
1) Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
2) Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
3) Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.
Menurut Newcomb (dalam Arindita, 2003), ada beberapa sifat yang menyertai proses persepsi, yaitu:
1) Konstansi (menetap): Dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang itu sendiri walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
2) Selektif: persepsi dipengaruhi oleh keadaan psikologis si perseptor. Dalam arti bahwa banyaknya informasi dalam waktu yang bersamaan dan keterbatasan kemampuan perseptor dalam mengelola dan menyerap informasi tersebut, sehingga hanya informasi tertentu saja yang diterima dan diserap.
3) Proses organisasi yang selektif: beberapa kumpulan informasi yang sama dapat disusun ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik.
Dijelaskan oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi. Faktor-faktor ini dari :
1) Pelaku persepsi (perceiver)
2) Objek atau yang dipersepsikan
3) Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung, persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut. Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan, motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal orang itu (Robbins, 2003).
Gilmer (dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain.
Oskamp (dalam Hamka, 2002) membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat dalam persepsi, yaitu:
a. Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
b. Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
c. Faktor-faktor pengaruh kelompok.
d. Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor fungsional dan struktural. Faktor fungsional ialah faktor-faktor yang bersifat personal. Misalnya kebutuhan individu, usia, pengalaman masa lalu, kepribadian,jenis kelamin, dan hal-hal lain yang bersifat subjektif. Faktor struktural adalah faktor di luar individu, misalnya lingkungan, budaya, dan norma sosial sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempresepsikan sesuatu. Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu faktor pemersepsi (perceiver), obyek yang dipersepsi dan konteks situasi persepsi dilakukan.
Aspek-aspek Persepsi
Pada hakekatnya sikap adalah merupakan suatu interelasi dari berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut Allport (dalam Mar'at, 1991) ada tiga yaitu:
1. Komponen kognitif Yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut.
2. Komponen Afektif, Afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.
3. Komponen Konatif Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya. Baron dan Byrne, juga Myers (dalam Gerungan, 1996) menyatakan bahwa sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:
1) Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.
2) Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.
3) Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.
Rokeach (Walgito, 2003) memberikan pengertian bahwa dalam persepsi terkandung komponen kognitif dan juga komponen konatif, yaitu sikap merupakan predisposing untuk merespons, untuk berperilaku. Ini berarti bahwa sikap berkaitan dengan perilaku, sikap merupakan predis posisi untuk berbuat atau berperilaku.
Dari batasan ini juga dapat dikemukakan bahwa persepsi mengandung komponen kognitif, komponen afektif, dan juga komponen konatif, yaitu merupakan kesediaan untuk bertindak atau berperilaku. Sikap seseorang pada suatu obyek sikap merupakan manifestasi dari kontelasi ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk memahami, merasakan dan berperilaku terhadap obyek sikap. Ketiga komponen itu saling berinterelasi dan konsisten satu dengan lainnya. Jadi, terdapat pengorganisasian secara internal diantara ketiga komponen tersebut.
Minggu, 21 Oktober 2012
Kamis, 04 Oktober 2012
BELAJAR
Belajar
merupakan dasar untuk memahami perilaku. Studi psikologi tentang belajar
mencakup lingkup yang jauh lebih luas dibandingkan dengan belajar tentang
pekerjaan baru atau subjek akademis. Belajar berkaitan juga dengan masalah
fundamental tentang perkembangan emosi, motivasi, perilaku sosial dan
kepribadian. Kita telah membahas banyak contoh belajar bagaimana misalnya
anak-anak belajar memahami dunia
disekitar mereka, mengenali jenis kelamin dengan tepat dan mengendalikan
perilakunya menurut standar orang dewasa.
Para psikologi membedakan dua bentuk belajar asosiatif yaitu:
1.
Pengkondisian
klasikal (clasical conditioning)
Studi tentang pengkondisian klasikal
dimulai dengan serangkaian eksperimen yang dilakukan oleh pemenang hadiah nobel
berkebangsaan Rusia pada peralihan abad 20. Ketika sedang mempeljari pencernaan
Pavlov melihat bahwa seekor anjing mulai menyalurkan air liur bila melihat
piring makanan. Setiap anjing akan mengeluarkan air liur bila makanan
diletakkan pada mulutnya. Tetapi anjing ini belajar mengasosiasikan adanya
piring dengan rasa makanan. Pavlov mmutuskan akan membuktikan apakah anjing
dapat diajar untuk mengasosiasikan makanan dengan hal-hal lain seperti sinar
atau suara.
Karena pengkondisian klasikal merupakan
bentuk belajar yang sangat sederhana banyak ahli kejiwaan menganggapnya sebagai
titik permulaan yang tetap untuk penyelidikan belajar.
Beberapa
hukum yang menentukan ciri-ciri pengkondisisan klasikal:
·
Pemerolehan
Setiap penyajian
berpasangan antara stimulus yang dikondisikan (SD)dan stimulus yang tidak
dikondisikan (ST) disebut percobaan (trial),
dan periode selama organisme belajar mengasosiasikan antara kedua stimuli
dinamakan tahap pemerolehan pengondisian (‘aqcuisition
stage of conditioning). Interval waktu antaa penyajian stimulus yang di
kondisikan dan tidak dikondisikan dapat berbeda-beda. Dalam pengondisian serentak (simultaneous conditioning), lampu (SD)
dinyalakan ketika daging (ST) diberikan dan dibiarkan sampai anjing berliur
(respon). Dalam pengondisian tertunda (delayed
conditioning), lampu (SD) dinyalan berpa menit atau lebih sebelum daging (ST) diberikan dan sekali lagi
dibiarkan sampai respon terjadi. Dalam pengondisian bekas, lampu (SD)
dinyalakan dulu kemudian dimatikan sebelum daging (ST) diberikan begitu rupa
sehingga suatu “bekas ingatan” lampu atau SD tetap terkondisikan.
Pada
pengkondisian tertunda dan pengkondisian bekas, pelaku eksperimen bekas, pelaku
eksperimen mengetahui bahwa organisme menyebabkan asosiasi baru bila respon
(berliur) terjadi sebelu stimulus yang tidak dikondisikan (daging) disajikan.
Dengan pengkondisian serentak, pelaku eksperimen harus menggunakan uji coba
dimana stimulus yang tidak dikondisikan tidak diberikan untuk menentukan apakah
organisme telah membuat asosiasi baru ; bila anjing berliur ketika stimulus
yang dikondisian ( lampu) diberikan/dikeluarkan sendiri, dapat kita ketahui
bahwa pengkondisian terjadi
.
·
Pemadaman.
Bila perilaku yang dikondisikan tidak dikuatkan
(bila stimulus yang tidak dikondisikan berulang-ulang tidak diberikan), respon
yang dikondisikan berangsur-angsur menghilang. Pengulangan stimulus yang
dikondisikan tanpa penguatan (menyalakan lampu tanpa memberikan daging)
dinamakan pemadaman (extinction).
GENERALISASI dan DISKRIMINASI
GENERALISASI
Bila
respon yang dikondisikan diperoleh sebagai tanggapan atas suatu stimulus
tertentu, maka stimulus lain pun akan menyebabkan terjadinya respon
tersebut. Seekor anjing yang belajar mengeluarkan liurnya pada bunyi
garputala yang membunyikan nada C tengah akan berliur pula pada nada yang lebih
tinggi atau lebih rendah tanpa harus ada pengkondisian lagi. Makin serupa stimulus
baru tersebut dengan stimulus aslinya makin tinggi kemungkinannya menimbulkan
respon yang dikondisikan. Prinsip ini, yang disebut generalisasi, menerangkan bahwa kemampuan dengan stimulus yang dikenal.
Studi yang menggunakan respon kulit
galvanis (RKG) menggambarkan generalisasi di atas. Perubahan yang mudah dalam
kegiatan elektris kulit yang terjadi
selama stress emosional. Shock elektris ringan akan menyebabkan timbulnya RKG,
dalam percobaan tersebut, nada murni suatu pitch khusus digunakan sebagai SD;
shock sebagai ST. Sesudah RKG dikondisikan pada nada tersebut, subjek dites
dengan nada yang berpitch lebih tinggi atau rendah.
DISKRIMINASI
Proses yang melengkapi proses
generalisasi adalah diskriminasi. Bila generalisasi merupakan reaksi terhadap
persamaan, diskriminasi adalah reaksi terhadap perbedaan. Diskriminasi yang
dikondisikan ditimbulkan melalui penguatan dan pemadaman yang selektif.
Generalisasi dan diskriminasi muncul
dalam perilaku sehari-hari. Anak kecil yang telah merasa takut pada anjing yang
galak, tentu saja akan memberi respon rasa takut pada semua anjing
(generalisasi). Akhirnya, melalui penguatan dan peniadaan deferensial, rentang
stimulus rasa takut menyempit hanya pada anjing yang berperilaku galak.
1.
PENGONDISIAN
OPERAN
Dalam percobaan Pavlov, respon yang
dikondisikan umumnya menyerupai respon normal pada stimulus yang tidak
dikondisikan; mengeluarkan air liur, misalnya,adalah respon normal anjing pada
makanan, tetapi bila akan mengajarkan suatu kelihaian (trik) pada anjing, kita
tidak dapat menggunakan pengondisian klasik . untuk menguraikan pengondisian
semacam ini, B.F. Skinner. Memperkenalan konsep pengondisian operan. Untuk
memahami pengondisian tersebut kita perlu membedakan apa ang disebut skinner
perilaku respon dan operan. Perilaku respon adalah respon langsung pada
stimulus seperti pada respon yang tidak dikondisikan. Dalam pengondisian
klasik; kelarnya air liur sebagai respon pada makanan di dalam mulut,
pemyempitan biji mata sebagai respon pada kilatan cahaya pada mata, hentakan
kaki sebagai respon pada pukulan ditempurung lutut. Sebaliknya, perilaku operan dikendalikan oleh
akibatnya.
Pada mulanya, hal itu terjadi dengan
sendirinya: yaitu munculnya lebih bersifat spontan daripada merupakan respon
pada stimulus tertentu. Misanya, bayi yang sendirian di tempat tidurnya mungkin
saja menyepak-nyepak dan berutar-putar atau mengoceh dengan spontan, semua yang
dilakukannya bukan merupakan respon pada hal tertentu.
EKSPERIMEN SKINNER.
Untuk
mendemonstrasikan pengondisian operan di laboratorium, seekor tikus yang lapar
diletakkan dalam sebuah kotak. Dalam kotak skinner tersebut tidak terdapat
apa-apa kecuali sebuah jeruji yang menonjol dimana terdapat piring makanan
dibawahnya. Sebuah lampu kecil diatas jeruji dapat dinyalakan menurut kehendak
pelaku eksperimen. Tikus yang dibiarkan sendiri di dalam kotak, berjalan
kesana-kemar menjelajahi sekitar. Kadang-kadang tikus melihat jeruji tersebu
dan menekannya. Lalu penekanan tikus pertama terhadap jeruji merupakan peringkt
dasar penekanan jeruji.
Setelah menentukan peringkat dasar, pelaku
eksperimen menggerakkan bubuk makanan yang diletakkan diluar kotak skinner.
Sekarang setiap kali tikus menekan jeruji, butirbutir halus makanan terluncur jatuh
ke piring makanan. Tikus memakannya dan segera menekan jeruji lagi makanan menguatkan (reinforce) penekanan jeruji
dan laju penekanan meningkat secara drastis. Bila tempat makanan tidak
dihubungkan dengan jeruji sehngga
penekanan jeruji tidak lagi mengeluarkan makanan, laju penekanan jeruji
menurun. Berarti respon operan mengalami pemadaman
(extinction) tanpa adanya penguatan, sama seperti yang terjadi pad respon
pengondisian klasik.
Dengan contoh ini, kita sudah siap untuk
membuat definisi tentang perilaku peran operan seperti yang diperlihatkan
diatas, perilaku “beroperasi” pada lingkungan –penekanan jeruji oleh tkut
menghasilkan atau merupakan akses untuk mendapatkan makanan. Pada pengondisian
lasik binatangnya pasif, hanya menunggu stimulus. Pada pengondisian operan,
binatangnya aktif, perilakunya sendiri menimbulkan akibat yang penting.
Jadi, pengondisian operan meningkatkan
kemungkinan adanya respon dengan menyertakan penguat (reinforcer) setelah
kejadiannya. Biasanya yang berupa peguat adalah sesuatu yang dapat memuaskan
dorogan dasar (basic drive), seperti makanan yang memuaskan rasa lapar atau air
untuk memuaskan rasa haus, tetapi sepert yang akan kita lihat,tidak selalu
harus demikian.
UKURAN
KEKUATAN OPERAN .
Laju
respon dalam pengondisian operan biasanya digambarkan oleh kurva kumulatif.
Jeruji kotak skinner dihubungkan dengan pen perekam, yang berhubungan dengan
secarik kertas yang bergerak perlahan. Setiap kali binatang menekan jeruji, pen
naik dengan jarak yang tertentu dan kemudian bergerak secara horizontal. Karean
kertas bergerak dengan kecepatan tetap, maka lekukkan kurva kumulatif merupakan
ukuran laju respon.
Garis
horizontal menunjukkan bahwa binatang tidak memberikan respon: kurva yang curam
menunjukkan laju respon yang cepat.
PENGUATAN
SEBAGIAN.
Pengonisian
operan menunjukkan tingkat keteraturan yang tinggi. Eksperimen dengan penguatan
sebagian akan menunjukkan bila perilaku hanya dikuatkan sebagian waktu saja.
Dalam suatu
ekspperimen khusus, seekor burung dara belajar mematuk sebuah piringan yang
tergantung di dinding untuk mendapatkan sebuah kecil gandum sebagai penguat.
Sekali pengondisian operan ini terbentuk, burung dara akan mematuk dengan
kecepatan tinggi, sekalipun burung tersebut mendapatkan penguatan kadang-kadang
saja.
Pemadaman
respon setelah pemerolehan respon pada penguat sebagian ternyata terjadi dengan
lamban, jauh lebih lamban, dibandingkan pemadaman sesudah pemerolehan sebuah
respon pada penguat yang terus-menerus. Gejala ini dikenal sebagai dampak penguatan sebagian (partial
reinforcement effect) terjadi karena tedapat sedikit perbedaan antara
situasi baru dan lama (antara pemadaman dan pemerolehan)
Dampak
penguatan sebagian mempunyai implikasi praktis yang berjangkauan jauh. Sebagai
contoh, orang tua yang kadang-kadang menguatkan
sifat pemarah anaknya dengan cra mengalah pada anak yang akan memyebabkan
timbulnya kemarahan yang lebih besar dan terus-menerus dibandingkan dengan
orang tua yang selalu mengalah. Anak
yang berlatar belakang penguatan sebagian pada kemarahan akan mengeluarkan
kemarahannya yang terus-menerus bahkan ketika orang tua mencoba meniadakannya
dengan cara mrngabaikannya. Seharusnya yang dikerjakan orang tua adalah
menguatkan perilaku anaknya yang baik, dan bukan kemarahan tersebut.
PENGUATAN YANG DIKONDISIKAN
Paclov
menemukan bahw bila seekor anjing telah belajar member respon pada sebuah
stimulus yang dikondisikan dengan cara yang sangat dapat diandalkan, stimulus
yang dikondisikan itu sendiri dapat digunakan untuk menguatkan perilaku baru.
Misalnya, binatang itu telah belajar untuk mengeluarkan liiur pada suatu nada
sebagai stimulus yang dikondisikan. Bila sinar sebuah lampu senter kemudian
diberikan, sinar senter akan menghasilkan respon yang ikondisika. Nada tersebut
telah menjadi penguat yang dikondisikan
(conditioned reinforce).
Penguatan ini mendapatkan kekuatannya melalui asosiasi
dengan prnguatan primer (primary
reinforce) : sesuatu yang memuaskan dorongan utama, seperti makanan
memuaskan rasa lapar atau air memuaskan rasa haus.
Penguatan
yang dikondisikan sangat meningkatkan rentang pengondisian yang mungkin
terjadi. Bila segala suatu yang kita pelajari harus disertai dengan penguat
primer, kesempatan belajar akan terbatas.
PEMBENTUKAN PERILAKU
Dalam
pengodisian klasik, stimulus yang dikondisikan (lampu pada percobaan Pavlov)
menjadi pengganti stimulus yang tidak dikondisikan (bubuk daging). Namun,
proses ini tidak menunjukkan terjadinya sesuatu yang baru(‘novelty’) dalam
perilaku – belajar respon yang benar-benar baru.
Para pelaku
eksperimen dapat mendorong perilaku baru dengan mengambil manfaat
berbeda-bedanya tindakan subjeknya. Misalnya, melatih anjing menekan bel dengan
moncongnya. Teknik yang hanya menguatkan respon yang cocok dengan spesifikasi
penyelidik dan melenyapkan yang lain dinamakn membentuk perilaku binatang. \
Fenomena bentuk sendiri (autoshaping) memberikan
suatu contoh tentang perilaku yang timbul karena ditentukan oleh
prinsip-prinsip pengondisian operan dan klasikal. Prosedur dinamakan autoshaping karena binatang-binatang
tidakmembutuhkan pengamatan aktif perilaku eksperimen.
PENGONDISIAN OPERAN PERILAKU MANUSIA
Dalam studi berikut ini, para mahasiswa tidak
menyadari bahwa percobaan telah dilakukan. Para pelaku eksperimen
melaksanakannya seolah-olah seperti percakapan informal dengan subjek; tetapi
sebenarnya bertindak sesuai dengan suatu rencana.
Selama waktu
ketika penguatan verbal diberikan, pernyataan pendapat meningkat dengan frekuensi
yang luarbiasa; selama waktu pemadaman, pernyataan tersebut menurun.peneliti
mengontrol perilaku verbal dalam situasi ini dengan cara yang sangat sama
dengan penekanan jeruji oleh tikus pada kotak skinner. Dalam situasi semacam
ini, subjek dapat mulai menyadari bahwa peneliti melakukan eksperimen pada
mereka. Namun, terdapat bukti bahwa dalam hal banyak subjek tidak menyadari apa
yang dilakukan peneliti dan belajar tetap terjadi.
Harus
dibedakan dengan jelas antara efektifita imbalan ekstrinsik dalam perolehan
perilaku dan peran imbalan tersebut dalam mempertahankan perilaku yang sering
terjadi. Imbalan eksentrik telah terbukti sangat bermanfaat dalam kelembagaan
dan cara untuk mempertahankan kelompok berperilaku seperti yang diinginkan;
misalnya, perilaku belajar pada anak-anak yana mengalami kesulitan sekolsh atau
pelajarn bahasa anak yang terbelakang.
2. KONSEP
PENGUATAN
Dalam bahasan tentang pengondisian klasik, kita menggunakan istilah penguatan
untuk mengartikan penyajian pasangan stimulus yang tidak dikondisikan dan tidak
dikondisikan.
Kita bedakan antara penguat positif dan negative. Penguat positif ialah stimulus yang apabila diberikan sesudah terjadinya
respon, meningkatnya kemungkinanrespon tersebut ; makanan dan air digolongkan sebagai
penguat positif unyuk organisme yang dengan tepat membutuhkannya. Penguat negative ialah stimulus yang
dihapuskan sesudah timbulnya respon , meningkatkan kemungkinan adanya respon;
shock elektris dan bunyi yang menyakitkan digolongkan sebagai penguat negative
jika penguat itu dapat ditiadakan ketika timbul respon yang diingikan.
Istilah imbalan (reward) kadang-kadang digunakan sebagai sinonim untuk
penguatan positif. Dampak penguat, apakah positif atau negative, adalah untuk
menguatkan respon sebelumnya. Dan hukuman memiliki dampak yang berlawanan
PRINSIP PREMACK
Premack telah menekankan bahwa
penguat dapat dianggap lebih bermanfaat sebagai respon. Dalam pandangan
premack, bukanlah makanan itu sendiri (stimulus) yang menguatkan penekanan
pengungkit, tapi makan makanan tersebut (aktivitas)
JUMLAH dan PENUNDAAN
PENGUATAN
Para psikolog telah menyelidiki secara sistematis dampak sejumlah
variabel penguatan pada proses belajar. Tidak mengherankan, jumlah penguatan telah ditemukan menjadi
penting. Sampai batas-batas tertentu, makin besar jumlah penguatan, makin laju kecepatan belajar yang
terjadi.
Penundaan penguatan merupakan variabel penting yang lain. Asumsi yang umum
ialah bahwa untuk melatih binatang atau anak kecil yang paling efektif adalah
member imbalan atau menghukum organisme itu segera setelah respon terjadi.
Hukuman yang diberikan orang tua ketika ia pulang kerja kurang efektif dalam
mengurangi perilaku agresif anak dibandingkan dengan hukuman yang segera
diberikan setelah tindakan terjadi.
PERAN HUKUMAN DALAM BELAJAR
Cerita rakyat mengemukakan bahwa hukuman adalah cara
yang efektif untuk mengendalikan perilaku. Denda dan penjaraadladh bentuk
control social yang ditetapkan oleh
semua pemerintahan.
Hukuman mempunyai beberapa keburukan
yang signifikan. Pertama, dampaknya tidak dapat diduga seperti imbalan. Kedua,
hasil simpangan hukum dapat membawa akibat yang tidak menguntungkan.pro dan
kontra ini bukanlah berarti bahwa hukuman seharusnya tidak pernah
dijalankan.hukuman dapat pula efektif bia ita hanya mrnginginkan anak untuk
memberi respon pada suatu sinyal untuk menghindari hukuman.
Akhirnya, hukumanan dapat pula
bersifat informative.
3. BELAJAR
KOGNITIF
Semua fenomena telah menekankan kelenjar asosiatif. Dalam memperlajari
bentuk belajar yang lebih kompleks, perhatian mestinya dihubungkan pada peran proses kognitif ; yaitu bagaimana siswa
menghayati, mengorganisasi, dan mengulangi informasi dalam usaha menguasai topik
baru.
Para psikolog yang dikenal berpandangan kognitif berpendapat bahwa
belajar, terutama pada manusia, tidak dapat dijelaskan dengan memuaskan dilihat
dari asosiasi yang dikondisikan. Mereka mengemukakan bahwa siswa membentuk
struktur kognitif dalam memori.
EKSPERIMEN INSIGHT
Wolfgang Kohler melaksanakan
serangakian eksperimen yang dirancang untuk menentukan kemampuan simpanse
memecahkan masalah.dalam beberapa hal, simpanse tampaknya menangkap hubungan
batin masalah melalui insight, yaitu, mereka memecahkan masalah tidak dengan
percobaan dan kesalahan(trial and error) tapidengan menghayati hubungan yang
penting untuk memecahkan masalah.
Penyelidikankontrol menunjukkan
bahwa baik perilaku memanjat dan mendorong haruslah diajarkan sebelum masalah
dapat di selesaikan.
STRUKTUR KOGNITIF
Salah seorang penganjur dini interpretasibelajar
kognitif adalah Edward C. Tolman, yang penelitiannya berkenaan dengan tikus
yang belajar mengenai ‘maze’ yang kompleks
BELAJAR
LATEN. Belajar laten, yang dipahami secara
luas, adalah setiap belajar yang tidak ditunjukkan oleh perilaku pada waktu
belajar. Umumnya, belajar semacam ini berlangsung tanpa imbalan. Bila imbalan
tetap muncul, terdapat penggunaan langsung dari apa yang telah diajari
sebelumnya.
PETA
KOGNITIF DAN SKEMATA. Peta kognitif merupakan
contoh lain tentang apa yang para psikolog disebut secara umum sebagai skema.
Beberapa psikolog menggunakan istilah ini untuk menunjukkan imbalan teoretik
yang khusus tentang peristiwa mental; psikolog lainnya menggunakan dalam
pengertian yang sangat luas.
BELAJAR
ASOSIATIF LAWAN BELAJAR KOGNITIF. Terdapat sejumlah kontroversi di kalangan para psikolog tentang
bagaimana menjelaskan belajar. Sebuah pendekatan memandang belajar sebagai
pembentuka asosiasi yang dikondisikan; yang menekankan sifat kognitif proses
belajar.
semua contoh belajar dapa digradasikan berdasarkan
skala dengan macam belajar yang paling otomatis (dijelaskan paling mudah
sebagai asosiasi) pad satu segi dan macam belajarr yang paling berinsight dan
rasional (dijelaskan paling mudah menurut prinsip kognitif) pada segi lainnya.
Kebiasaan yang dipelajari di pengondisian klasik, tanpa kesadaran yang nyata,
akan berada pada satu ujung skala. Menuju ke tengah skala terdapat tugas yang
dipelajari dengan kesadaran penuh tapi tetap agak otomatis. Pada ujung skala yang
lain adalah tugas yang membutuhkan penalaran tentang fakta tentang hubungan
kompleks, kebanyakan belajar akan terdapat di antara dua ujung skala, yang
merefleksikan gabungan belajar asosiatif dan kognitif.
4.
BELAJAR DENGAN KOMPUTER
Bentuk pengajaran seperti
ini jelas mempunyai keterbatasan bila dibandingkan dengan penyelenggaraan
tutorial (hubungan satu-satu antara murid dengan guru). Tetapi biaya pendidikan
tutorial ini tidak praktis pada skala yang besar.
Pada tahun ‘50-an’, diadakan
upaya untuk memungkinkan beberapa aspek pengajaran tutorial dalam bentuk ‘teaching machine’. Karya ini dibimbing
oleh B. F. Skinner, orang yang sama yang memainkan peran inti dalam penyelidikan
pengodisian operan. Skinner merasa bahwa banyak gagasan yang
dikembangkan dalam studi laboratorik tentang belajar binatang dapat diterapkan
pada tugas peningkatan pengajaran.
PENGAJARAN INDIVIDU
Dengan mundulnya computer, makin jelas
bahwa alat-alat pengajaran dapat ditingkatkan hingga jauh lebih fleksibel dan responsive
pada siswa dibandingkan dengan ‘teaching machine’-nya skinner. Hingga kini,
penggunaan computer dalm bisnis, IP, dan perekayasaan jauh melebihi
penerapannya dalam pendidikan.
Namun demikian, jika kemampuannya
bentul-betul didasari, sifat pendidikan akan diubah secara radikal oleh
computer selama masa kehidupan kita. Ciri pengajaran berkomputer yang paling
penting adalah bahwa pengajaran ini member kesempatan yang tinggi pada individualisasi; siswa dapat belajar
dengan kecepatannya sendiri mengikuti jalur melalui kurikulum yang paling cocok
dengan minat dan bakat khususnya.
Walaupun perkembangan pengajaran dengan computer
terbatas, penelitian menunjukkan bahwa computer akan diterapkan secar luas di
masa yang akan dating. Misalnya, pengajaran dengan computer yang dirancang
untuk mengajar membaca pada tingkat awal telah terbukti berhasil.
PROGRAM PENGAJARAN.
Intisari
suatu pengajaran, apakah di kelas atau dibawah kendali computer, terletak pada
pengaturan materi yang akan diajarkan. Seluruh materi yang diatur sedemikian
rupa, sehingga dapat dikuasai siaswa, dinamakan program pengajaran (instructional program). Program ini melibatkan unsure
perkiraan mengenai pengetahuan siswaitudapat menggunakan informasi itu untuk
mengambil keputusan sesaat tentang apa yang akan diajarkan kemudian.
Dari
sudut pandang psikologis, ada tiga factor yang tampaknya sangat penting tentang
apa yang membuat program pengajaran dengan computer efektif:
1.
Peranserta aktif. Secara aktif berinteraksi dengan materi kurikulum
dengan cara memberi respon, berlatih, dan melakukan tes pada setiap langkah.
2.
Umpanbalik informasi. Siswa tanpa penundaan yang terlalu lama dapat
mengetahui apakah respon yang diberikan tepat; dengan demikian kesalahan dapat
dikoreksi dengan segera. Umpanbalik yang segera terbukti sangat penting dalam
suatu rangkaian -kegiatan- dan
pengondisian operan dengan binatang (dimana penguat segera menghasilkan belajar
yang lebih cepat) sampai pada belajar dengan subjek manusia (dimana penguat
segera akan berhaasil memberikan keuntungan yang serupa).
3.
Individualisai pengajaran. Siswa maju dengan lajunya sendiri. Siswa yang cepat dapat
maju dengan cepat melalui materi, sedangkan siswa yang lebih lamban dapt
majudengan tidak terlalu cepat (seringkali deselipi dengan program perbaikan)
sampai konsep dasar dapat dikuasai
Telah
diketahuai bahwa pengajaran berdasarkan laju individu sudah dimanfaatkan secara
efektif, sekalipun computer belum tersedia. Sebagai contoh, pengajaran dengan
laju individu telah meningkat laju belajar anak-anak ketika penyelesaian suatu
unit diberi penguatan dengan tanda
penghargaan (tokens), yaitu penguat yang dikondisikan yang nanti dapat
diganti dengan treats (perlakuan yang menyenangkan) atau priveleges (hak-hak istimewa). Tetapi, computer telah memaksimalkan
kesempatan untuk partisipasi dan dengan cepat mendapatkan umpan balik. Lagipula,
computer memberikan penguat penting untuk jawaban yang tepat – seperti peragaan
grafik yang hidup – yang sangat efektif untuk memotivasi anak-anak.
5.
FAKTOR-FAKTOR BELAJAR
Jadi
faktor
yang berpengaruh adalah
1. INTERNAL
: faktor
yang berasal dari individu (sebagai input) yang meliputi factor :
a. Fisiologis,
meliputi kondisi jasmani, fungsi alat indra, saraf sentral, dan sebagainya.
b. Psikologis,
meliputi minat, motivasi, emosi, intelegensi, bakat, dsb.
2. EKSTERNAL
: faktor
diluar diri individu yang mempengaruhi proses belajar dan meliputi factor :
a. Social/lingkungan,
yaitu pola asuh dalam keluarga, dukungan dari lingkungan di sekitar individu,
kehadiran hanya dalam pikiran/tidak nyata). Misalnya bela teringat orang tua,
maka motivasi untuk menyelesaikan skripsi akan meningkat.
b. Instrumental,
meliputi alat perlengkapan belajar, ruang belajar, ventilasi, penerangan,
cuaca, materi yang diberikan, peraturan-peraturan yang mengikat proses belajar
(misalnya norma masyarakat, aturan dalam sekolah, system pendidikan), dan sebagainya.
(by:kelompok genap kelas i)
Langganan:
Postingan (Atom)